Malam Ini Tepat 46 Tahun G30S/PKI. Jangan Pernah Lupakan Pahlawan Revolusi.

Jam ditangan saya menunjukkan tepat pukul 23.30 ketika saya mulai menulis artikel ini.
Malam ini juga 46 tahun yang lalu, beberapa jam dari sekarang sekelompok pasukan yang terlatih bergerak menuju sasaran-sasaran yang telah diperintahkan.
Tujuan pasukan tersebut hanya satu, menculik perwira-perwira tinggi Angkatan Darat hidup atau mati, dan membawanya ke suatu tempat didaerah Pondok Gede Jakarta Timur, yang dulunya lebih dikenal dengan sebutan Lubang Buaya.

Masih sangat lekat dalam ingatan saya dahulu dijaman orba, malam ini adalah jadwal rutin diputarnya film dokumentasi tentang pemberontakan PKI. Sebuah Film yang diproduksi untuk menceritakan kronologi dari G30S/PKI. Sebuah film yang berdurasi sangat panjang pada jamannya. Disitu dijabarkan lengkap. Mulai dari asal muasal, perencanaan, eksekusi, hingga tindakan-tindakan yang ‘konon’ menggambarkan kejadian yang sebenarnya dari pemberontakan tersebut. Buat saya, film tersebut malah terkesan ‘horor’ banget. Jalan ceritanya, efek suaranya, pengambilan sudut gambarnya…,hadeeeehhhh pokoknya sadis dan memilukan banget.

Saat ini seiring runtuhnya kekuasaan orba, film ini pun ikut-ikutan runtuh juga. Ga ada lagi stasiun televisi yang memutarnya. Banyak pihak yang berpendapat, bahwa film tersebut hanyalah media propaganda sekelompok orang yang ingin merubah jalannya sejarah revolusi republik ini. Media untuk menghilangkan suatu ‘kenyataan sejarah’, yang hingga saat ini pun menurut saya masih simpang siur dan selalu saja menjadi perdebatan dimana-mana. Nggak ada niat juga saya membahas ada apa sebenarnya, karena pasti nggak akan ada habisnya.

Well…apapun itu dan seperti apa kenyataan yang sebenarnya, kita jangan pernah melupakan pengorbanan tujuh pahlawan Revolusi. Tujuh perwira yang jasadnya 46 tahun yang lalu dimasukkan ke dalam sumur tua Lubang Buaya dengan cara yang sama sekali tidak manusiawi.
Ingat, negara yang besar adalah negara yang tidak pernah melupakan catatan sejarah. Baik itu indah atau kelam.

This article is dedicated (with all my deepest respect) to:
1. Ahmad Yani, Jend. Anumerta
2. Donald Ifak Panjaitan, Mayjen. Anumerta
3. M.T. Haryono, Letjen. Anumerta
4. Piere Tendean, Kapten CZI Anumerta
5. Siswono Parman, Letjen. Anumerta
6. Suprapto, Letjen. Anumerta
7. Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen. Anumerta

*mohon maaf wordpress mobile di hp saya sedang error. Untuk sementara artikel tidak disertai gambar. Akan di update secepatnya.

Tentang duniahariyadi

Ordinary man. Ordinary daddy. Sangat menyukai travelling, dunia otomotif, dan kuliner.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s