Nongkrong di Flyover Membahayakan Diri Sendiri dan Orang Lain.

Tongkrongers Fly Over

Tongkrongers Fly Over

Ada fenomena menarik yang saya perhatikan setiap kali melintas di jalur fly over Jakarta. You name it lah didaerah mana, setiap malam pasti ramai kan? Apalagi setiap akhir minggu. Motor-motor dan pemiliknya parkir rapi pararel berjejeran. Biasanya di dominasi oleh kaum muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Pernah juga melihat seperti klub/komunitas biker yang kopdaran disana.
Lalu nggak akan ada semut kalau tidak ada gula. Para pedagang kaki lima pun ikutan nimbrung untuk mengais rejeki. Tukang bakso,siomay,minuman,batagor,soto mie, wis lah pokoke lengkap..kap..kap. Yah, masuk akal sih. Yang namanya nongkrong kan pasti lama-kelamaan minimal haus. Maksimal laper xixixixi…

Entah apa yang dicari, atau hiburan apa yang didapat, mereka pastinya memiliki alasan tersendiri menghabiskan waktu nongkrong di atas fly over. Hiburan murmer? Hmmmmm bisa jadi. Angin semilir, pemandangan yang (mungkin) indah, atau romantisme?
Namun disadari atau tidak, perbuatan mereka telah menyalahi aturan.

Fly over dirancang sebagai jalur khusus kendaraan bermotor, yang tidak memiliki sedikitpun ruang untuk keadaan darurat. Jarak aman dari bibir jembatan hingga garis di aspal yang berfungsi sebagai patokan pengguna jalan lebarnya gak sampai semeter cmiiw. Jika ada objek berhenti di atas flyover kondisi ini jelas sangat berbahaya.

Saya pernah mengalami sendiri, saat melintas di fly over Kalibata pada malam hari yang dipenuhi oleh tongkrongers. Ketika sedang berada dipuncak, secara tidak sengaja saya melihat sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta tanpa malu dan segan berpelukan, dan berpagutan. Sepersekian detik ketika saya tersadar, baru inget kalau jalur fly over-nya menikung.
Hadeeeehhhh, telat antisipasi bisa runyam akibatnya. Jadi ngeri membayangkan keselamatan driver/rider dibelakang saya.

Tidak cuma itu. Nongkrong diruang terbuka belum menjamin keamanan tongkrongers itu sendiri. Terbukti pada sekitaran bulan April 2011, sepasang abg yang sedang pacaran di fly over kemayoran ditodong oleh preman yang ingin merampas motornya. Beruntung sedang ada patroli polisi yang melintas. Kejadian itu berujung ditembaknya kaki sang preman karena berusaha melawan aparat.
Mau dengar berita yang lebih ekstrim? Pada tahun 2009, seorang pengemudi yang sedang mabuk tanpa sadar menabrak tongkrongers di fly over Pasar Rebo. Hasilnya? 3 orang tewas seketika. 2 orang korban diantaranya adalah pasutri.

Saya lantas berpikir, apakah ini refleksi kegagalan pemkot dalam menyediakan tempat hiburan murmer namun layak yang jumlahnya merata di Ibukota?
Ruang publik dan taman terbuka seperti di Senopati, Menteng, Tebet, Monas, sebenarnya lebih enak dan nyaman untuk ditongkrongi. Open air, sejuk, nyaman, dan dilengkapi kuliner plus jajanan yang beraneka macam.
Sangat cucok bagi para tongkrongers bertipe murmer yang nggak doyan hang-out di mall / ruang tertutup as well as tongkrongers flyover.

Menurut anda?

*gambar pinjem dari Google

Tentang duniahariyadi

Ordinary man. Ordinary daddy. Sangat menyukai travelling, dunia otomotif, dan kuliner.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Nongkrong di Flyover Membahayakan Diri Sendiri dan Orang Lain.

  1. choirul berkata:

    bahaya banget tuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s