Balada Tukang Gorengan

Sore yang padat. Seperti halnya setiap sore di Jalanan Ibukota. Posisi DH sedang bengong dipinggir jalan nonton kemacetan disalah satu kawasan perkantoran tersibuk di Jakarta. Pada waktu itu DH sedang nungguin istri tercinta selesai bekerja. Memang beberapa hari dalam seminggu terkadang jika DH ada waktu bisa pulang ngantor bareng istri. Kebetulan lokasi kantor DH dan istri searah jalur menuju kediaman.
Sering kali DH bosan menunggu istri di parkiran. DH lebih suka nongkrong dipinggir jalan. Entah mengapa asik aja, atau karena banyak terdapat jajanan yang menggoda selera yah hehehe…

Salah satu jajanan favorit DH dikala menunggu adalah ngemil gorengan. Beneran wenak tenan. Harganya @1000 rupiah. Pisangnya gede-gede manis empuk pula. Oncomnya gurih. Tempenya, ubinya, cirengnya, tahunya, bakwannya, risolnya, wis pokoke bingung milihnya. Pelanggannya buanyak. Jika sedang ramai-ramainya si penjual sampai nggak kelihatan. Persis kayak superstar yang dikerubungi penggemar beratnya.
Saking seringnya jajan gorengan, DH jadi akrab dan sering ngobrol dengan penjualnya. Sosok pria setengah baya menuju era bapak-bapak. Usianya mungkin 35-40 tahunan. Dari logat bicaranya sih, tebakan DH dia berasal dari daerah Tegal, Purwokerto, atau Cilacap dan sekitarnya. Medok, kentel, ketebak deh pokoknya.
Biar gampang nulisnya, beliau DH tulis TG aja yah (Tukang Gorengan). Sedikit maksa sih, tapi ya gapapa lagh xixixixi…

Pernah suatu kali iseng nanya-nanya, dijawab syukur nggak dijawab ya nggak papa. DH ngorek berapa omset dagangannya dalam sehari.
Ternyata jawaban TG cukup membuat pisang yang sedang DH kunyah agak seret ditenggorokan. TG mengaku dalam sehari dia bisa beromset 700 ribu rupiah (jika sepi) hingga 1 jutaan rupiah dikala ramai pembeli. Seringnya sih diantara itu nominalnya. Lalu tanpa diminta TG mulai bercerita sendiri. Keuntungan bersihnya kira-kira 50% dari total omset.
TG berdagang 20 hari dalam sebulan. Maksudnya saban Sabtu-Minggu TG istirahat. Menurutnya percuma dagang Sabtu-Minggu karena mayoritas karyawan kantoran libur.

Lalu, apa yang membuat pisang yang DH sedang kunyah agak terhenti di tenggorokan? Coba deh bayangkan, taruhlah dalam sehari rata-rata dia bisa membawa pulang omset 800 ribu aja (kondisi sepi nggak ramai nggak), berarti keuntungan bersihnya 400 ribu. Nah, berarti 400 ribu X 20 hari = 8 juta Rupiah!!! Menurut DH hasilnya bukanlah suatu nominal yang kecil. Ditambah lagi Sabtu-Minggu TG nggak jualan. Hampir nggak ada bedanya kan dengan karyawan kantoran daerah elit?
Memang sih hitungan ala DH masih sangat kasar, karena setiap harinya TG mengaku harus menyisihkan untuk membayar ongkos siluman untuk izin nangkring a.k.a pungli dan pengeluaran lain-lainnya.

DH lantas teringat dengan aksi demo buruh dan pekerja besar-besaran beberapa waktu yang lalu untuk menuntut standar upah. Saking dahsyatnya, jalan tol Jakarta-Cikampek sampai diblokir lumpuh total. Lalu jika di compare dengan TG ini, kok kayaknya agak njomplang yah?
Dibalik penampilan sederhana (kalau nggak mau dibilang agak kucel) yang memanggul beban berat pikulan, kehujanan plus kepanasan saban hari, namun pada kenyataanya cukup ‘makmur’.
Yahhh memang sih, kalau dipikir-pikir secara lebih jauh lagi, Allah SWT sudah mengatur sedemikian rupa rejeki setiap kepala dari umatnya. Tinggal bagaimana cara kita mensyukurinya. Betul?

Ada satu lagi cerita yang sangat menarik menurut penuturan TG sendiri. Gara-gara ada bule asal Australia yang tergila-gila dengan gorengan racikannya, dia pernah diundang khusus masuk Kedubes Australia untuk menjamu bule-bule disana. Muantappp. DH aja seumur-umur belum pernah masuk kesana.
TG dengan semangat 45 bercerita disana dia dikerumuni segerombolan bule yang berebut makan gorengan. Herannya lagi, ternyata gorengan masuk dilidah bule. Semuanya habis tak bersisa kecuali cireng dan cabe.
DH sontak tertawa mendengarnya. Kalau cabe sih jelas karena (katanya) bule nggak terlalu suka makanan yang pedas ekstrim ala Indonesia cmiiw.
Lantas ada apakah dengan cireng? Kok mereka nggak doyan hahahaha. Padahal kan wenak buanget puooolll. Mungkin karena ilfil lihat bentuknya yang paling beda sendiri? Atau karena rasanya kayak makan karet dibumbuin? Bwahahahahaha…

Oh ya suatu waktu dia juga pernah ‘curhat’ berbagai hal. Dari perasaannya saat omsetnya turun drastis ketika di isukan para TG menggunakan plastik kresek untuk bahan gorengannya, hingga mimpinya ditahun ini bercita-cita ingin merayakan hari ultah anak semata wayangnya yang berumur 10 tahun, dengan cara menyisihkan sebagian rejekinya kepada anak-anak yatim yang kurang mampu. Salut 4 jempol kaki dan tangan dari DH. Dibalik sosoknya yang sangat sederhana, dia membuktikan bahwa penampilan dan profesi tidak lantas menimbulkan kesan ‘miskin’ moral.

”Yes its true by its cover you can guess what kind of book it is, but still you can’t jugde a book from its cover”

*gambar hanya ilustrasi pinjam dari akang Google.

Tentang duniahariyadi

Ordinary man. Ordinary daddy. Sangat menyukai travelling, dunia otomotif, dan kuliner.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

3 Balasan ke Balada Tukang Gorengan

  1. smartf41z berkata:

    langgananku di batu ampar 1🙂 , sekali2 juga ke batu ampar 3 deket sungai

  2. abughifariaang2009 berkata:

    tukang gorengan bisa naik haji. Kapan neh giliran akuh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s