Ketika Bensin Hampir Habis. Bisa Jalan Seberapa Jauh?

empty-fuel-gauge-750x422

Sumber gambar dari Google

Adakah pembaca blog DH ada yang pernah mengalami kejadian bensin tiris, dan mendadak hati dagdigdugser kuatir mogok dijalan? DH yakin pasti ada. DH pun beberapa kali pernah mengalaminya. Dari sekian banyak kejadian serupa, menurut DH kebanyakan penyebabnya adalah LUPA. Yes…benar…, karena lupa. Lupa isi ulang BBM. Entah itu karena sedang ada masalah. Banyak yang dipikirin. Lagi kasmaran, atau ya karena lupa aja hahaha…

Sebetulnya, seberapa sih jarak yang bisa dijalani ketika kendaraan tungganan tiba-tiba ngasih warning bbm tiris? Dalam hal ini indikator fuel meter digital biasanya kasih tanda kedip-kedip, sedangkan indikator analog (jarum) kasih tanda berupa lambang fuel menyala.

Well…kebetulan DH memiliki kenalan sohib lama, yang saat ini bekerja di salah satu pabrikan otomotif. Kebetulan kantornya memiliki divisi roda empat dan roda dua. Sebut saja namanya Suzuki. Menurut beliau, kendaraan roda empat maupun roda dua pabrikan apapun, relatif memiliki kesamaan dalam hal pengaturan reserve fuel. Rata-rata terhitung semenjak indikator bensin tiris nyala, kendaraan masih sanggup diajak menjelajah hingga minimal 30km. Lantas jarak maksimalnya seberapa jauh? Nah…untuk itu setiap pabrikan berbeda. Bervariasi. Maksudnya bisa saja di 35km, atau 40km, atau 45km, dsb. Patokannya adalah minimal 30km. Ingat, minimal ya bukan maksimal.

So…lalu artinya apa? pertanda bahwa sebetulnya kita nggak perlu panik jika dihadapkan dengan situasi tersebut. Tambahan tips dari DH, segera setelah muncul peringatan bensin tiris, pencet tombol reset odometer. Kita akan lebih mudah memantau jarak tempuh sambil mencari spbu terdekat. Semoga bermanfaat.

 

 

 

Dipublikasi di Pengetahuan Umum | Meninggalkan komentar

Kawasaki ZX25R. Menurut DH.

Setelah sekian lama jadi gosip dan perbincangan, sosok motor (yang katanya) fenomenal itu akhirnya menampilkan sosoknya. Yups, tak lain dan tak bukan, Kawasaki ZX25R. DH mau ikutan jadi 1 dari sekian buanyak orang yang ngomongin, ngepoin, nggosipin, atau apalah itu namanya.

Memang tak bisa dipungkiri. ZX25R saat ini pasti jadi top list di berbagai mesin pencarian dunia maya kategori roda dua. Berbagai macam info, keterangan dan gambar terkait ZX25R deras membanjir dan bisa dengan mudah didapat. DH nggak akan membahas performa, spesifikasi atau desain. Toh sudah jelas terpampang gamblang. Mesin 4 silinder, suspensi depan USD Showa, kaliper rem radial, riding mode, dsb…dsb…dsb. Disini DH akan coba membahas dari sisi berbeda. Mencoba menganalisa seperti apa reaksi pasar paska kehadiran ZX25R.

ZX25r.1

Kawasaki ZX25R. #Sumber Gambar dari Google

Sebagai mantan pemakai Ninin 250 (karbu generasi pertama), sudah sering kali DH dijadikan bahan rujukan rekan-rekan DH yang berniat naik kelas memboyong motor sport 250cc. Merk apakah yang bagus,  manakah yang paling kencang, manakah yang paling worth to buy, adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke DH. Dan dalam memberikan rekomendasi, DH selalu berusaha objektif. Setidaknya versi DH. Namun justru bukan disitu intinya. Karena disetiap akhir diskusi, DH pasti selalu menyelipkan tambahan rekomendasi >> “bro…coba deh pertimbangkan maxi skuter 250cc…”

Lho…diminta rekomendasi motor sport 250cc, kok ujung-ujungnya malah menyisipkan maxi skuter 250cc? Jelas-jelas keduanya beda genre dan dunia. Batangan vs skutik. Nggak apple to apple. Eh…tapi ya, dari beberapa rekan DH yang akhirnya beneran mboyong motor sport 250cc pilihannya, ada pula beberapa yang mbelot beli maxi skutik 250cc. Faktanya si biker maxi skutik hingga kini masih betah jadi usernya, makin asik ngutak-ngatik dan modifikasi baik itu tampilan atau performa. Berbanding terbalik dengan biker sport 250cc rekan DH yang rata-rata sudah mulai bosan dan kehilangan excitement. 

Ada beberapa faktor buah analisa DH tentang fenomena tersebut. Dari yang paling mudah saja deh. Nyomot dari pengalaman pribadi. Saat sedang riding menggunakan maxi skuter dan tertahan di lampu merah, DH merasa lebih menjadi perhatian biker lain, dibanding saat sedang menggunakan sport 250 cc (pinjem punya teman). Faktor lainnya adalah kenyataan bahwa masa keemasan Sport 250cc telah lewat. Greget, gengsi, tren dan momentumnya makin memudar. Diawal-awal kemunculannya dulu dianggap sebagai perlambang prestise dan gengsi. Lantas bergeser menjadi semacam media lompatan sebelum masuk ke dunia moge. Dan kini? DH pun yakin pembaca bisa menyimpulkan sendiri.

Lalu…bagaimana kans ZX25R? Mungkin banyak pembaca yang menilai terlalu dini untuk memperkirakan. Namun DH yakin ZX25R akan menjadi game changer. Belum juga brojol di Indonesia, tapi grup WA di hp DH yang isinya para bangkotan moge udah pada gibah dan heri (heboh sendiri). Sebagian besar bereaksi antusias dan ancang-ancang beli. DH masih ingat sekali, saat Kawasaki melakukan major facelift Ninin 250 dan juga Yamaha saat mengupdate R25, mereka nggak bereaksi seperti ini.

Memang kenyataannya, pesona output suara mesin inline 4 silinder yang merdu buat sebagian besar biker di Indonesia are like music to their ears. Mau itu cc kecil, cc sedang, hingga cc besar. 4 silinder = keren= stereotip. Pesona yang sama namun belum masuk kategori stereotip dimiliki mesin berkonfigurasi V twin (HD) dan L twin (Ducati) yang menggelegar. Ada juga mesin V4 tapi populasinya masih sangat sedikit.

Kesimpulannya? ZX25R walaupun hanya berkapasitas 250cc, namun karena klepnya ada 16, sudah dianggap beda. Its a different world. its a different class. Jangankan sekarang, lha wong dulu di periode 80an saat booming era sport 250cc 4 silinder dengan material eksotis, motor itu pun dianggap sangat eksklusif.

Tinggal kini kita tunggu bersama berapa harga yang akan dirumuskan oleh KMI. Disini mereka mesti memikirkan dengan matang. Mau diposisikan dimana motor ini. Segmented market only? reasonable price maker? atau sebagai cash cow? pun bagaimana dampaknya dengan motor-motor mereka yang telah lebih dulu eksis. Termasuk pula disitu harga sekennya. DH yakin konsumen potensial ZX25R ada. Seyakin KMI yang akhirnya pede bela-belain mbangun ZX25R untuk menyapu bersih potensi tersebut.

Sebagai penutup sekaligus intermezzo. Sepertinya Pak Sekutiri yang ditugaskan untuk menjaga parkiran khusus motor besar >400cc di mal-mal besar, kudu bekerja lebih keras dan teliti nih. Karena kans ZX25R lolos dari pantauan radar mereka sepertinya lumayan besar. Apalagi jika si pemilik iseng melepas livery original ZX25R dan menggantinya dengan livery ZX6R versi 2020. Makin kesamar deh tuh. Udah penampilan mirip, suara juga mirip…hahaha…!!

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Edisi Kangen. Kawasaki ER6N.

Gosh…its been a while hasn’t it?

Terakhir kali DH menulis artikel di blog ini tahun 2014. Itu artinya sudah sekitar 5 tahunan blog ini mati suri. Lantas apa yang membuat DH kembali nengokkin blog ini? dan kembali mendapatkan mood untuk menulis? Tak lain dan tak bukan karena tiba-tiba DH kangen dengan benda mati berwarna hitam doff, yang sekarang entah berada dimana.

1688678_20151016102506

Where are you now mate?

Yups, sesuai judul diatas, DH pernah ‘bercengkrama’ dengan Kawasaki ER6N. Agak lupa juga sih kapan tepatnya. Kira-kira ditahun 2014. DH boyong si hitam dari dealer Kawasaki di daerah Warung Buncit Jakarta. Semenjak plat nomor turun, dan clocking sekitar lima belas ribuan kilometer, hingga akhirnya berpisah di pertengahan 2016.

Secara umum, motor ini memuaskan. Memenuhi hampir semua ekspektasi DH. Keren, gagah, berotot, kencang (pake banget), dan sangat nyaman dikendarai. Mungkin saja di antara pembaca ada yang berencana memboyong unit bekasnya? Atau masih membanding-bandingkan dengan motor baru yang harganya beda tipis, namun berkapasitas silinder yang jauh dibawahnya? Naah, di artikel ini sekalian aja deh, DH beberkan impresi dan sedikit review si hitam dari sudut pandang seorang biker amatir. Agar mudah dicerna, DH jabarkan dalam format poin-poin saja.

Desain. Lumayan oke lah. Setidaknya menurut DH. Yang paling DH suka itu desain sasis trelis model perimeter yang segaris dengan lekukan swing arm. Plus penempatan peredam kejut belakang yang diposisikan frontal terlihat. Warnanya merah pulak. Sangat kontras dengan warna motornya. Ciamik pol. Apa lagi? Lampu belakangnya keren juga. LED model bulet-bulet kecil bentuk segitiga. Pokoknya cakep banget. Khas motor premium. Lantas bagian yang DH ndak suka dibagian mana? Tangkinyaaaa…hahaha. Aneh bingiittss. Berpunuk nggak jelas kayak Unta. Lampu depannya pun biasa saja. Nggak jelek namun nggak keren juga. Satu hal yang menurut DH unik, motor ini tampak padat dibagian kanan, namun sebaliknya terkesan kopong dibagian kiri. Nggak percaya? Coba saja gugling Kawasaki ER6N, hampir semua foto yang ditampilkan pasti tampak kanan. Bukan tampak kiri. Mungkin untuk menutupi kekopongan yang DH maksudkan.

Ergonomi. Nah di sisi ini ER6N layak dapat bintang. Zero complaint. Busa jok rider empuk.  Busa jok boncenger (setidaknya menurut istri) empuk. Posisi setang pas. Posisi pijakan kaki juga pas. Pelukan paha ke tangki nyaman, Nggak terlalu ngangkang. Jarak kaki ke tanah bersahabat (DH 178.5cm). Kaki menjejak bumi sempurna. Untuk keperluan touring jarak menengah-jauh, motor ini sudah sangat cucok. Dijamin senyam-senyum terus sepanjang perjalanan. Minim capek.

Performa. Menyenangkan. Serius…!!…menyenangkan. Coba kita lihat dulu spek di atas kertasnya. Tenaganya 72 hp@8500rpm. Torsinya 64nm@7000rpm. Itu artinya tenaga hampir 2x lipat ninja 250 terbaru, namun dengan torsi hampir 3x lipat lebih besar!! Hasilnya? Gilaaaa..!! Motor ini jelas tidak direkomendasikan untuk biker pemula. Buka gas sedikit langsung joss. Wuzz…wuzz…!! Tarikannya suangat tajam. Riding di daerah yang didominasi tanjakan bukanlah masalah bagi ER6N. Malah justru disitulah habitatnya. Mendahului apapun nggak pake mikir sama sekali. Enteng buanget. Kebanjiran torsi. Nggak ada habis, nggak ada putus, nggak pake ngos-ngosan. Bagi biker pecinta wheelie yang narsis, motor ini sangat akomodatif. Sangat mudah gak pake ribet. Lantas minusnya dimana? Hembusan hawa panas saat extra fan aktif, lumayan mengganggu. Terjebak macet naik ER6N? Siap-siap pangkal paha mateng. Panasnya nyebar pula hingga dengkul, paha dan kaki. Pokoknya bikin manyun. Ohya sisi minus lainnya menurut DH di suaranya. Gegara itu lho…mirip banget dengan suara ninja 250…hehehe… Ya nggak heran sih, karena konfigurasi mesinnya plus firing ordernya sama. DH nggak bilang jelek. Tapi menurut DH membuat motor ini jadi kurang berkarakter.

Handling. Butuh penyesuaian menaklukan ER6N. Jika baru pertama kali nyobain, jangan langsung kepedean bejek gas. Pelajari dahulu karakter motornya. Pertama, motor ini terhitung berat…204kg (bobot siap jalan dengan semua cairan dan bbm). Salah penanganan, banyak yang apes jatuh bego. Biasanya saat memundurkan motor atau puter balik pada kecepatan rendah. Kedua, kenalan dulu dengan remnya. Ini penting, makin kencang motor, makin wajib pula sang rider tau bagaimana bisa berhenti. Dalam hal ini rem standar ER6N pakem namun nggak istimewa. Dulu saat inreyen, DH merasakan kok motor sangat sulit diajak belok pada kecepatan menengah, setangnya bergetar pula. Seperti melawan. Anehnya gejala tersebut hilang dikecepatan tinggi. Waktu itu DH coba meriset tekanan ban (terutama depan). Begitu dapat tekanan yang pas, masalah tersebut hilang. Namun jika tekanan berkurang, kumat lagi.  Banyak yang bilang hal itu disebabkan karena ban yang kelamaan parkir di dealer. Jadi performanya menurun.

Built Quality&Reability.  Secara package, ER6N DH nilai bagus. CBU Thailand. Kualitas las-lasan, material logam dan plastik sangat solid. Kualitas perakitannya pun rapi jali. Pun selama DH menggunakannya, DH tidak terkendala apapun. Baik itu teknis maupun non teknis. Motor siap diajak jalan kemanapun. Trouble free. Modifikasi yang DH lakukan? Tidak ada hehehe. Motor pure default. Semua orisinil standar pabrik hingga saat dipinang orang…hiks…hiks…

Dengan harga pasaran saat ini dikisaran 70-80 jutaan, ER6N menurut DH sangat layak untuk dipinang. Dibanding beli unit baru yang…ehm…cuma berkapasitas 250 cc…hehehe. Nambah dikit juoss…!!

Dulu karena DH kesemsem dengan motor yang bersilinder 2x lipat lebih banyak, pun berkapasitas lebih besar, akhirnya DH melepas si hitam. Masih sayang sih sebetulnya, tapi bener kata banyak orang. Selingkuh itu indah hehehe. Dan sekarang pun si penggantinya itu sudah jadi mantan terindah juga. Kapan-kapan DH ulas juga ya impresi dan reviewnya. Ciao…ciao….!!

motor5

Riding terakhir dengan si Hitam sebelum besoknya dipinang orang

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Kawasaki, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Perbedaan Antara Bobot Kering, Bobot Kosong dan Bobot Kotor Kendaraan.

Seberapa penting kah aspek bobot / berat dalam menentukan pilihan sebelum membeli kendaraan?

Seberapa banyak kah, faktor bobot mempengaruhi karakter kendaraan?

Seberapa “haruskah’ faktor bobot jadi pertimbangan utama dalam memodifikasi tunggangan?

Bagaimana menurut DH? Jawabannya adalah penting, banyak, dan sangat harus. Bobot adalah salah satu aspek yang nggak akan bisa dilepaskan dari suatu kendaraan. Karena dari bobot kita bisa menentukan :

– kelas kendaraan. Banyak sekali kepentingan dan kegunaan perbedaan kelas kendaraan berdasarkan bobot. Salah satu contohnya tertulis jelas dan besar di plang sebelum kita membayar Tol. Berat sekian bayar sekian. Iya kan?

– PWR alias Power to Weight Ratio, a.k.a perbandingan antara tenaga mesin dan bobot total kendaraan tempat mesin tersebut bersemayam. Dari sini kita bisa memperkirakan secepat apa sebuah kendaraan mampu dikebut dan memperkirakan konsumsi bahan bakar sekian liter setiap sekian kilometer.

Namun tahukah anda  jika kita melihat melalui spesifikasi di brosur, bobot kendaraan bisa beda-beda lho. Maksud DH beda pabrikan beda pula cara dan gaya mereka mencantumkan bobot kendaraan yang mereka promosikan. Untuk lebih jelasnya DH akan jelaskan perbedaan mengenai penjelasan masalah bobot.

DRY WEIGHT (Berat Kering).
Artinya disini adalah jika suatu kendaraan tersebut ditimbang dalam keadaan kering tanpa ada cairan apapun. Lha emangnya ada cairan apa aja? Ya ada tho, sebut saja bensin/solar, oli mesin, oli girbok (jika terpisah), oli rem, oli gardan, oli power steering, cairan pembersih kaca, cairan radiator dan tentu saja tanpa aki. Baik itu aki basah maupun aki kering. Jadi berat kering disini bisa diartikan secara harfiah. Pokoknya bobot kendaraan dalam keadaan kering kerontang. Berlaku sama saja untuk mobil atau motor.

CURB / KERB WEIGHT (Berat Kosong).
Berat kosong atau dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai Berat Operasional, adalah berat kendaraan dalam keadaan siap untuk jalan atau digunakan, tapi tanpa ada beban tambahan atas kendaraan tersebut.

DH ambil contoh, si Item Kawasaki ER6N milik DH memiliki bobot Curb Weight sebesar 204kg. Itu artinya sang Motor ditimbang dan menghasilkan angka 204kg sudah dalam keadaan tangki bbm full-tank, oli mesin dan oli rem terisi, plus cairan radiator yang siap meredam panas sang mesin. Ohya jangan dilupakan si aki yang juga sudah parkir ditempatnya.

Lantas apa arti kalimat : tanpa ada beban tambahan? Artinya adalah sang motor belum ada yang nunggang. Apalagi ada yang mbonceng. Boro-boro ada tambahan barang bawaan. Intinya Berat / bobot Kosong itu artinya adalah bobot kendaraan siap jalan/digunakan tapi belum ada beban apapun diatas (untuk motor) atau didalamnya (untuk mobil).

GROSS VEHICLE WEIGHT / Berat Kotor Kendaraan.
Nah jika GVW ini beda lagi. Bedanya dimana? Begini, GVW adalah bobot kosong kendaraan ditambah dengan bobot maksimal manusia yang mengendarai plus barang bawaan, yang berat totalnya sudah diperkirakan dan dibatasi oleh pabrikan.

Contoh lagi deh. Coba buka dan dibaca buku manual kendaraan masing-masing. Jika pada motor kan biasanya tertulis untuk beban manusia berapa kg. Bahkan jika motornya dilengkapi bagasi tambahan / cantelan pasti dicantumkan juga berapa bobot maksimalnya disitu. Nah jika sudah ketemu angkanya ditambahkan bobot kosong. Hasilnya itu merupakan Berat Kotor Kendaraan atau GVW.

Gimana? Sudah jelas kah penjelasan tentang bobot? Jika ada pembaca yang ingin memberi masukan atau ada yang mengetahui lebih dalam ilmu tentang bobot kendaraan, monggo silahkan di share di kolom komentar. Semoga bermanfaat.

Dipublikasi di Pengetahuan Umum | 7 Komentar

Honda Tiger. (Mantan) Raja Sport 4 Tak Yang Makin Jarang Terlihat.

Hari yang sangat panas. Just like another day, DH riding menuju kantor dan langsung mengarahkan si bebek besi masuk parkiran khusus motor. Keringat mengucur deras. Nggak sabar rasanya kepingin ngadem dikantor yang ACnya maknyos.
Slot parkiran motor sudah lumayan ramai. Terisi kira-kira 80% dari kapasitas maksimum. Isinya ya kayak biasanya lah. Jejeran motor-motor operasional harian mainstream buatan lokal. Ada bebek, ada skutik, ada sport 150cc. Ada yang dekil, ada yang bersih. Ada yang masih standar, ada yang udah dimodifikasi. Ada juga lho yang dimodif ala alay. Beberapa diantaranya DH kenali milik rekan kerja DH dikantor.

Dari sekian buanyak motor yang terpakir, ada yang menarik perhatian DH. Sebuah Honda Tiger Revo!! Walaupun kondisi motor sangat kotor dan dekil mengingat beberapa hari belakangan sering turun hujan, namun DH mampu mengidentifikasi kalau sang Tiger ini masih baru. Masih bau dealer. Masih kinyis-kinyis. Disinyalir mesinnya pun masih dalam tahap inreyen.

Untuk memastikan DH langsung intip plat nomornya. Disitu tertulis 04.19. Yes!! Berarti benar masih gress. Usia motor baru menginjak maksimal 2 bulanan terhitung artikel ini dibuat (Juni 2014).
Sejenak DH amati dan perhatian si Tiger ini. Berlampu depan yang (balik lagi) model bulat, sang Tiger ini walaupun desainnya cenderung nggak mboseni, namun nggak bisa dipungkiri eksistensinya semakin termakan kemajuan jaman. Salah satu faktor yang menguatkan hal itu menurut DH adalah pemakaian velg berdiameter 18 inci. 90an banget gitu lho. Sisanya sih masih oke dipandang lah.

Tak cuma itu, populasinya dijalanan Ibukota pun semakin langka. Kalaupun ketemu seringnya serombongan. Mungkin mau kopdar atau turing kali ya. Padahal dulu di era tahun 90an hingga 2000an, si Tiger ini sangat tenar dan banyak berseliweran. Hingga akhirnya saat AHM memutuskan untuk tidak lagi memproduksi Tiger di bulan Maret 2014, nyatanya masih ada Tiger gress yang masih eksis. Apakah ini sisa stok? Atau secara khusus AHM masih memproduksi selama masih ada demand? Entahlah…

Lantas iseng-iseng DH Googling untuk mengintip spesifikasi generasi Tiger paling akhir. Dan inilah hasilnya :

Mesin
Tipe mesin : 4 Langkah OHC, pendinginan udara
Diameter x langkah : 63,5 x 62,2 mm
Volume langkah : 196,9 cc
Perbandingan Kompresi : 9,0 : 1
Daya Maksimum : 16,7 PS / 8.500 RPM
Torsi Maksimum : 1,60 kg.m / 7.000 RPM
Kapasitas Minyak Pelumas Mesin : 1,0 liter pada penggantian periodik
Kopling Otomatis : Manual, Multiplate Wet Clutch
Gigi Transmsi : 6 kecepatan
Pola Pengoperan Gigi : 1-N-2-3-4-5-6
Starter : Elektrik Starter & Kick Starter

Rangka
Tipe rangka : Pola Berlian
Tipe suspensi depan : Teleskopik
Tipe suspensi belakang : Lengan ayun pegas ganda dengan tabung oli
Ukuran ban depan : 2,75 – 18 42L
Ukuran ban belakang : 100/90 – 18 M/C – 56P
Rem depan : Cakram hidrolik, dengan piston ganda
Rem belakang : Cakram hidrolik, dengan piston tunggal

Dimensi
Panjang X lebar X tinggi : 2.029 x 747 x 1.093 mm
Jarak Sumbu Roda : 1327 mm
Jarak terendah ke tanah : 155 mm
Berat kosong : 138 kg
Kapasitas tangki bahan bakar : 13,2 Liter

Kelistrikan
Aki : 12 V – 7 Ah
Busi : ND x 24 EP U9 / NGK DP8EA-9
Sistem Pengapian : CDI-AC, Magneto

Jika diterawang, memang nggak ada peningkatan spesifikasi teknis secara kasat mata yang signifikan pada sang Tiger, jika dibandingkan dengan generasi awal. Kecuali pada penggunaan rem cakram hidrolik pada roda belakang dan pengaplikasian sokbreker belakang dengan tabung oli. Sisanya lebih pada upgrade penampilan dan finishing desain bodi.

Honda Tiger? Nggak ada matinya!

Dipublikasi di Honda | Meninggalkan komentar

Panduan Bagi Yang Kesemsem Motor Sport 250cc (2014)

Saat tulisan ini dibuat (jaga-jaga jika nanti bertahun-tahun kemudian ada yang baca hehehe), dunia permotoran di Indonesia sedang heboh dengan hingar bingar gegap gempita meriah luar biasa tenggelam dalam euforia banyaknya mbrojol produk baru (sekali-kali boleh lah sedikit lebay). Khususnya dikelas prestise, yaitu sport 250cc. Kawasaki pede dengan Ninja 250R, Honda jumawa punya CBR250, Suzuki ikutan bikin Inazuma, dan yang paling Bontot adalah Yamaha dengan R25.

Jika kita flashback, masih teringat jelas saat dulu di tahun 2008 Kawasaki dengan pedenya memulai terlebih dahulu. Lantas karena sambutannya positif tak pelak pabrikan Jepang lainnya ikutan latah mencoba peruntungan di segmen yang sangat sempit ini. Hasilnya pun diluar dugaan, terbukti walaupun saat ini harga jualnya mencapai angka 50juta++, tak sulit melihat penampakannya dijalanan. Bahkan makin kesini pabrikan pun makin ‘kreatif’ membuat diferensiasi. Contohnya apa? Lihat saja saat sang ninja ditelanjangi dan dibuat versi naked. Bukan nggak mungkin pabrikan kompetitor ikutan mengekor strategi ini.

Lantas siapa coba yang nggak kepingin punya sport 250cc? Apalagi yang versi fairing. Wuiiiiihhhh disinyalir tingkat kegantengan terdongkrak signifikan dimata lawan jenis incaran. Ya apa ya? Aghihihihi…
Tampilan bak moge, mesin padat, suara gagah nan merdu (yang 2 silinder), pokoke maknyozzz lagh. No doubt about it.

Naaaahhh, pada artikel ini DH akan mencoba sharing dan memberikan panduan bagi para biker yang berencana meminang motor impian ini. Dan disini DH HANYA MENITIKBERATKAN pada biker yang terbiasa numpak bebek/skutik dalam kesehariannya yaaa. Karena memang bebek/skutik jika dibandingkan dengan motor batangan bener-bener totally different toy, apalagi jika dicompare dengan sport 250cc. Baik itu dari bobotnya, feelingnya, handlingnya, dsb. Belum lagi harganya hihihi…

Kebetulan pada kurun waktu 2010 hingga 2012 DH pernah memiliki Kawasaki Ninja 250R (versi karbu). Dan selama kurun waktu tersebut tercatat DH menjelajah dengan sang Ninin sejauh 12000km. Ya buat riding dalkot, turing, nongkrong, ngantor, dsb. Saat ini sang Ninin sudah berpindah tangan karena Alhamdulillah DH sudah beralih meminang kakaknya yang ber-cc lebih dari dua kali lipatnya.
Jika di-compare, DH yakin kok Ninin (karbu) dengan NinFi atau versus R25 pun karakternya versi stock masih mirip-mirip alias 11-12. Lha wong diatas kertas speknya juga nggak terlalu njomplang. Bobot 11-12, power masih sekelas lah, sasis sama-sama teralis toh?

Oke, nggak pake lama DH mulai panduan ala DH yah. Ohya, DH hanya menjabarkan sisi nggak enaknya a.k.a rempongnya saja. Khusus bagi motor sport 250 berfairing. Karena enaknya gak perlu lagi lah dibahas. Toh justru lebih afdol jika kita menyadari sisi pahitnya terlebih dahulu sebelum memutuskan kan?

DH akan coba bahas perpoin :

– Hembusan panas yang dilepaskan oleh extra fan.
Lumayan bikin ‘asset’ kita setengah mateng bro. Kondisi ini terjadi jika terjebak macet plus pas siang bolong terik. Rasanya yaaa gitu deh aghihihi. Mesinnya sih kuat, DH dulu pakai ninin gak pernah sampe overheat. Tapi jika kelamaan lumayan ngganggu bikernya juga. Masalah ini telah teratasi pada NinFi, dengan mengarahkan hawa panas radiator kebawah via semacam corong yang membungkus extra fan. Tapi apakah R25 dilengkapi juga dengan piranti itu? Kayanya nggak deh. Toh DH pernah test-ride NinFi punya temen dan kejebak macet, tetap saja masih berasa hangat agak panas disekitaran fairing, walau memang nggak sepanas Ninin karbu.
Tips dari DH : Dinikmati saja bro, nggak akan bikin mesin overheat kok (pengalaman pribadi). Hitung-hitung latihan lah. Karena jika nanti punya rejeki dan bisa naik kelas beli moge diatas 500cc, hembusan anginnya pun tambah fuuanaaassss.

– Torsi / tarikan bawah yang loyo.
Jadi gini ya, rata-rata motor sport fairing 250cc kan sengaja di setting oleh pabrikan lebih condong ke performa. Katakanlah speed. Lihat aja lah speknya. Muntahan peak power dan torsi baru njendul dan terasa pada puratan menengah-atas. Berharap jika di lampu merah bisa langsung terdepan saat lampu berubah hijau? Judule ngimpi. Yang ada makan asep skutik/bebek. Pokoknya semakin ketinggalan. Tenaga baru beringas minimal mulai 8000rpm, dan ketika mau overtake gerombolan skutik/bebek, udah keburu ketemu lampu merah lagi aghihihihi. Buat pembaca yang kesehariannya numpak skutik/bebek, pasti berasa deh bedanya. Walaupun cc jauh lebih kecil tapi bicara lincah, mereka number one.

– Konsumsi BBM.
Nggak salah beli motor sport 250cc masih mikirin begituan? Eits jangan salah bro. Justru DH memandang dari sisi yang berbeda. Masih ada hubungannya sih dengan poin sebelumnya. Jadi gini, motor sport 250cc kan boyo banget tuh di rpm rendah, otomatis rider butuh mlintir gas lebih dalam untuk berakselerasi. Belum lagi jika lagi enak-enak riding konstan(taruhlah kecepatan sedang), eh mendadak ada kucing belekan nyebrang, kan pasti ngerem tuh, nah buat ngangkatnya lagi rada berat. Bisa sih diakali dengan turun gigi, tapi tetep aja berat. Disitulah banyak bensin yang terbuang dengan percuma. Kadang sayang aja sih. Beda lah rasanya jika sedang menikmati sensasi 8000rpm keatas. Mau seberapa banyak bensin yang terbakar, akan tergantikan oleh kepuasan yang didapat.
Tetap kepingin irit? Bisaaaaa. Tiap ngegas di rpm rendah musti diurut bin smooth hingga masuk ke zona tenaga. Namun percayalah, ngurut gas di motor sport 250cc itu nggak enak. Entah kenapa, nggak enak aja. Bawaannya pasti kepingin mlintir lebih dalam. Konteksnya bukan buat ngebut lho, tapi buat ngimbangin skutik/bebek yang terkenal lincah berakselerasi selepas lampu merah.
Tips dari DH : selepas dari lampu merah belajar woles aja bro. Skutik/bebek di trek pendek bukan tandingan sport 250cc. Cuma buang-buang bensin ngeladenin mereka. Begitu mau overtake, udah ketanggor lampu merah lagi wkwkwkwkwwk.

– Handling.
Secara dimensi dan berat dibanding skutik/bebek, sport 250cc lebih besar segala-galanya. Buat biker yang biasa menari-nari dengan lincahnya pakai skutik/bebek menembus kemacetan bakalan kerepotan. Yah, ini sih relatif yah. Tapi sedikit banyak mempengaruhi juga bro. Contoh : Tau kan bajay? Hobinya kan ikutan nyempil-nyempil di sisa jalur buat motor tuh. Jika biasanya naik bebek/skutik kadang cuma tinggal nggodekin setang dikit plus gak pake turun kaki kan? Gimana kalau naik sport fairing 250cc? Minimal diukur-ukur dulu. Kadang suka nggak muat aghihihihi…

– Masalah parkir.
Bukan maksud DH menyinggung fisik, tapi nunggang sport 250cc akan sedikit rempong bagi biker yang tingginya pas-pasan. Idealnya minimal 170cm lah. Dibawah itu dijamin bakalan sulit majuin motor pakai kaki saat parkir, apalagi mundurin. Udah ngeden maksimal motor gerak cuma seuprit. Belum lagi masalah insting alami milih-milih lahan parkir yang motorsiawi. Lumrah sih, lha wong motor seharga 50juta++. Gak tega aja. Dulu sih sport 250cc masih bisa parkir dilobi mall. Sekarang? Udah nggak boleh bro. Bandingkan jika pas bawa skutik/bebek. Parkir ya tinggal parkir. Mau dimana aja bebas. Empet-empetan gak masalah. Bahkan suka ada yang langsung dijogrokkin aja gitu alias pararel. Nggak ada rasa was-was, atau nggak tenang. Iya apa iya? hehehe…

– Masalah Ratjoen.
Nah ini dia yang musti ikut diantisipasi. Begini ya, biasanya pasca beli sport 250cc, disinyalir kan langsung kepingin gabung komunitas. Atau ikutan club. Minimal gugling lah cari tau segala sesuatu yang berhubungan dengan tunggangan. Lantas disitulah benih-benih ratjoen aksesori/modifikasi mulai mewabah. Dari yang simple hingga yang hardcore. Dari yang murmer hingga jutaan. Knalpot, velg, ban, cutting stiker, performance parts, apparel, wis pokoke buanyak lah. Jika tingkat keimanan tifis dan gampang ambrol ya wassalam.

– Masalah (maaf) bokong.
Biasa harian naik skutik/bebek? Enak tho? Nyaman, karena joknya lumayan tebal. Boncenger pun hepi. Nah sekarang coba bandingkan dengan jok sport 250cc. Beda tipis lah sama triplek wkwkwkwkw. Memang dipoin ini berlaku hukum relatif. DH sih merasa tifisnya jok nggak begitu mengganggu saat turing atau jalan konstan. Namun pas terjebak dalam macet, bokong DH sampai berasa kebas bro. Lantas gimana dengan boncenger? Malah makin parah tipisnya. Plus posisi footpeg yang kayak orang jongkok. Bikin pegal betis.

Begitulah panduan ala DH. Dan semua itu based on pengalaman pribadi diatas Ninin karbu. Which is pasti mirip-mirip lah dengan NinFi dan R25. DH berani jamin.
Untuk CBR250 mungkin agak berbeda ya. Karena CBR kan satu silinder. Walupun cc sama tapi jumlah/konfigurasi silinder sangat mempengaruhi karakter dasar motor. DH pernah sih test ride CBR punya teman, tapi ya yang namanya test ride ya beda lah dibanding memiliki langsung dan merasakannya dalam jangka waktu lama.

Last but not least, DH pikir motor sport 250cc masih kurang pas jika digunakan buat harian. Terutama pemakaian dalkot. Ya buat ngantor, ya buat ngampus, dsb. Jika pembaca kebetulan sekarang sudah memiliki skutik/bebek, tapi kepincut sport 250cc fairing, saran DH jangan dijual. Usahakan tetep di keep aja gitu. Untuk urusan accessbility, flexibility dan easy to ride skutik/bebek yang paling pas. Paling cucok untuk karakter kebanyakan jalanan Indonesia.
Lha terus, sport 250cc-nya kapan digunakannya? Ya kan bisa dipakai bergantian. Atau khusus buat turing bagi yang doyan ngukur aspal luar kota. Setujuuuu????

Dipublikasi di Kawasaki | 5 Komentar

Si Badak 18 Tahun Kawasaki Kaze

Kawasaki Kaze-R 1996

Kawasaki Kaze-R 1996

Masih teringat jelas dibenak DH saat dulu ortu ‘menghadiahi’ DH yang masih unyu-unyu berseragam putih abu-abu sebuah motor untuk menunjang mobilitas DH menuntut ilmu. Masih teringat jelas saat dulu untuk yang pertama kalinya mata DH berbinar melihat penampakannya dirumah sesaat setelah diantar kurir dealer. Masih teringat jelas saat dulu untuk yang pertama kalinya jempol kanan DH menekan tombol ‘start’. Damn, still it feels like my best moment in my life!!!
Yup, seperti tertera pada judul, sebuah Kawasaki Kaze-R lansiran 1996 resmi menjadi motor pertama DH. Motor yang pada jamannya memiliki fitur dan gimik terdepan dikelas bebek 4 tak. Bagaimana nggak? Dijaman itu lawan head to headnya hanya Honda Supra dan Suzuki Shogun yang keduanya belum dilengkapi rem cakram diroda depannya. Belum lagi jika bicara fitur double bulb head lamp, tangki bensin yang dilengkapi bensin cadangan plus kran multiguna. Lantas Yamaha kemana? Jika DH nggak salah sih waktu itu Yamaha masih belum jualan bebek 4 tak.

Buanyak banget kenangan dan memori yang DH dapatkan semasa nunggang motor ini. Saking buanyaknya jika DH tulis semua pembaca juga bakalan capek sendiri mbacanya aghihihihi. Namun diantara jutaan kenangan, bagi DH hanya ada dua yang paling berkesan dan masih membekas bingits. Yaitu pada saat SMU DH merasakan punya pacar (ah jadi malu saya). Masa-masa boncengin doi, nganterin doi, ngapel kerumah doi…, ah…dunia kok ya serasa cuma milik berdua. Rasanya semua kelihatan endyannggg tenan. Si Kaze jadi saksi mati cinta monyet kita berdua. Hingga kini DH nggak ngerti dimana doi berada. Jian udah lost contact blass. Yah dimanapun doi berada, DH harap dia pun sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang, amiiinnn.
Kenangan indah lainnya diatas si Kaze yang nggak mungkin DH lupakan adalah ketika DH akhirnya ketemu jodoh. Ya si Kaze pula lah yang jadi saksi mati. Lucu juga ya, ketemu pacar pertama jaman SMU naik si Kaze, eh sekitar 10 tahun kemudian dipertemukan dengan pacar terakhir diatas motor yang sama. Hingga kemudian DH menikahi doi dan berbuntut 3, si Kaze masih setia menjadi saksi mati. Hal positifnya adalah, pada waktu itu DH yakin dan mantap memilih doi, karena doi menilai dari keseriusan DH, bukan melihat dari tunggangan DH xixixixi…

Selama 18 tahun miara Kaze, DH tidak pernah merasa direpotkan. Justru malah DH yang merasa sering ngerepotin si Kaze ini. Dari mulai lupa ganti oli, males servis, kadang ogah nyuci, mundurin motor mentok pager, de-el-el. DH aja sampai heran, ini motor apa badak? Usia 18 tahun belum pernah turun mesin!! Padahal jam terbangnya lumayan tinggi. Hingga detik ini, si Kaze yang DH andalkan untuk mobilitas rumah-kantor pp, dan aktivitas harian rumah tangga lainnya seperti antar-jemput anak, buat ngangkut air galonan dan gas 3kg, dsb.
Mesinnya pun masih greng, sekali engkol langsung nyala. Sasisnya pun nggak kalah badak. Komstir, garpu depan, dan keseimbangannya masih ciamik, orisinil, dan berfungsi dengan baik walaupun udah jutaan kali ngantem lobang gede plus beberapa kali DH ndlosor dijalanan. Bener-bener over engineering motor ini,ckckckck.
Fyi, untuk asupan bensin dari pertama kali turun dari dealer hingga saat ini DH selalu isi menggunakan BBM oktan 92. Mungkin faktor ini juga kali ya yang bikin mesin si Kaze bisa awet hingga sekarang.

Dalam sejarah kepemilikan motor, memang DH sempat beberapa kali meminang motor lain. Tercatat DH pernah punya skutik entry level merk sebelah yang penjualannya tertinggi di negeri ini, lalu DH juga pernah punya sport 250cc dua silinder, dan hingga kini miara sport 650cc. Namun tetap saja bagi DH si Kaze inilah benda yang DH anggap sesuatu bingits. Dan jika boleh DH mereview, bebek racikan Kawasaki ini beda dengan yang lain. Built quality sangat bagus, berasa antep, tebal, kuat, kokoh, bandel, dan sangat bisa diandalkan. Sulit untuk dideskripsikan jika belum pernah merasakan langsung atau memiliki dalam jangka waktu lama.

Hal menarik lainnya adalah soal nama. Nggak cuma DH kok, karena DH yakin pembaca pasti juga punya kebiasaan ngasih nama/julukan buat tunggangan masing-masing kan? Nah si Kaze ini namanya udah gonta-ganti, menyesuaikan dengan kondisi terupdate. Dulu saat baru si Kaze punya julukan si Biru (karena striping aslinya warna biru). Lantas berubah jadi si bleki (maksudnya si Hitam karena bodinya DH blok dengan stiker hitam), dan sekarang namanya si Nguk-nguk aghihihihi. Nama pemberian istri. Karena menurut doi tiap mbonceng Kaze motornya bunyi nguk-nguk ahahahahaha…

Last, DH yakin deh setiap orang di dunia ini memiliki benda kenangan. Benda yang bahkan nilai historisnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan nilai jualnya. Benda yang akan selalu dikekep dan disimpan sebagai lambang/saksi mati menjalani kehidupan. Entah hanya untuk disimpan dan menjadi properti pribadi, atau memang sengaja dipersiapkan untuk kelak diceritakan kepada anak/cucu.
Apakah pembaca juga punya benda kenangan? Monggo, silahkan dishare ya..

Dipublikasi di Kawasaki | 4 Komentar